RSS

Mercure Pontianak

hai guys….

Pertama kali di Pontianak, kami tinggal sementara di Hotel Mercure. letaknya di Jl. Ahmad Yani yang merupakan jalan terusan dari arah Bandara Supadio hanya memerlukan waktu sekitar 15 menit dari bandara, tidak jauh juga dari mall terbaru sekaligus terbesar di kota Pontianak, A Yani Mall dan hanya bersela sebuah dealer Toyota, Anzon Autoplaza. jika berjalan kaki hanya memerlukan waktu kurang lebih 5 menit dari hotel.

Hotel ini memiliki halaman parkir yang tidak terlalu luas dengan lobi yang juga lumayan kecil, sangat berbeda dengan rata-rata hotel Mercure di kota lain seperti Yogya.

Lorong antarkamar juga sempit, luas kamarnya pun tak jauh luas dari hotel bintang tiga di Yogya. Yeahh….harap maklum, meskipun ibukota propinsi, Pontianak bukanlah kota besar. Dengan bawaan 4 koper besar & 3 travelling bag, kamar kami menjadi semakin sempit..

Kamipun bersegera membersihkan diri setelah perjalanan panjang & melelahkan, saya juga mengecek isi koper. Ternyata sebagian besar pakaian yang tersimpan di koper basah kuyup karena kehujanan sewaktu pemindahan bagasi di Soetta. Cerobohnya kami tidak mengantisipasi hujan sehingga kami tidak mem-plastic wrapping saat check in. Maka akhirnya saya menyulap kamar kami menjadi jemuran darurat karena saya kuatir baju kami akan menjamur mengingat kami akan tinggal di hotel selama 3 hari.

Selesai membersihkan diri, kamipun berbuka puasa seadanya di kamar dengan snack & lunch box dari pesawat lalu kami lanjutkan dengan makan malam di hotel.

Selama 3 hari di hotel, tak banyak hal yang saya lakukan karena menurut info teman disini, kita tidak akan menemukan taxi seperti di semua kota di Jawa. Taxi hanya mangkal di mall & bandara. Ohhh mine! Meski berdekatan dengan mall, saya tetap memilih banyak di kamar. Cuaca siang sangatlah terik & saya belum menyesuaikan diri dengan temperatur kota Equator ini.

Hari sabtu siang, kami check out, dijemput beberapa rekan kantor suami untuk pindah ke rumah dinas kami disini….

Bismillahirrahmanirrahiim….semoga rumah kami kelak membawa keberkahan berlimpah untuk keluarga kecil kami, amiiinnn….

 
Leave a comment

Posted by on February 21, 2014 in travels

 

to pontianak

hai semua….

akhirnya saya pindah kepulauan, hehe…yeahh selama 30++ tahun ini saya betaahh banget bercokol di Pulau Jawa, apalagi pada dasarnya saya lahir, ortu saya lahir juga di Jawa. kepindahan kali ini juga bukan karena mau saya kok, tapi karena memang sudah tiba “jatah” suami untuk mutasi ke luar Jawa, dan tempat tinggal kami yang baru sekarang di Pontianak, Kalimantan Barat.

per tanggal 18 Juli 2013 kami resmi berangkat ke Pontianak dari Semarang menggunakan jasa Garuda, kami menempuh rute Semarang-Jakarta, Jakarta-Pontianak. sebenarnya ada maskapai direct Smg-Pnk yaitu Kalstar, tapi untuk perjalanan kali ini, kami lebih prefer menggunakan maskapai yang sudah terjamin armada & pilotnya walaupun rutenya harus memutar via CGK dulu. apalagi saat ini cuaca sungguh sangat sulit diprediksi.

keberangkat Garuda kami mengalami delay sekitar 1 jam dari jadwal semula. kami naik pesawat jenis Boeing 737-800, armada lokal yang baru dengan layar televisi mini LCD 9 inch di atas kursi.¬†dan seperti dugaan kami, saat take off dari Smg, cuaca cerah dan terik…namun beberapa saat diatas berubah menjadi mendung, sempat terjadi goncangan (yang sangat jarang saya rasakan jika memakai Garuda tapi mungkin saking tebalnya awan) dan selanjutnya hujan deras saat mendarat di Soetta. Alhamdulillahh, kami mendarat dengan selamat. sayang sekali, Garuda tidak menyediakan garbarata, sehingga kami harus sedikit berhujan-hujan masuk ke shuttle yang mengantar kami ke terminal kedatangan.

saat itu kami membawa 1 mini koper (appx 10kg), 1 tas laptop (appx 5kg), 1 baby bag (appx 3kg), dan si kecil Arleydhia (98cm, 14kg) dalam gendongan yang sedang tidur pulas saat mendarat. fiuhhhhh, bisa dibayangkan betapa repot dan beratnya beban yang harus kami bawa bukan? apalagi saat itu kami sama-sama berpuasa (ahhh puasa tak boleh jadi alasan kan ya?), diiringi hujan, dan tau sendiri, betapa luasnya terminal kedatangan Soetta. naik tangga, jalan kaki menuju transit report, lalu jalan kaki lagi menuju Gate. fiuhhh….perkiraan kami mas Dhia akan tertidur dalam pesawat, lalu dia bisa berjalan kaki sendiri sehingga kami berdua bisa berbagi tas, hehehe…sungguh di luar perkiraan, si kecil menikmati seat-nya, menikmati suvenir mobil dari flight attendant, menikmati makan siangnya dengan nyaman, dan baru menjelang mendarat baru mendadak pulasūüė¶

karena keberangkatan kami mengalami delay, maka waktu transit yang seharusnya sekitar 1-2 jam an harus mengalami percepatan, kami masih beruntung karena tidak tertinggal pesawat walau resikonya harus berlari-lari di sepanjang gate dengan bawaan banyak dan berat #ngos-ngosan# dan parahnya lagi, gak sempat motret2…huwaaaaa….ini adalah kesalahan besar sepanjang sejarah, tanpa dokumentasi!¬†

tak lama, kami sudah berada di dalam pesawat Boeing 747-500, jenis yang lebih tua daripada yang kami naiki dari Smg-Jkt. tapi total perjalanan saya rasakan lebih tenang yang ke Pontianak, padahal full menyeberang Laut Jawa yang begitu luasnya. Sekitar 1,5 jam kemudian, kami akhirnya mendarat di Bandara Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat. Subhanallah, akhirnya sampai juga saya menginjakkan kaki saya pertama kali di bumi Borneo…tentang Borneo, sebenarnya sudah lamaaa sekali saya ingin berkunjung ke pulau terbesar di Indonesia ini, karena selama berpuluh-puluh kali perjalanan dinas dan perjalanan wisata sepanjang hidup saya, belum ada satupun record ke Borneo. tidak menyangka jika kunjungan pertama saya justru adalah saat saya harus tinggal sementara di Pontianak, untuk waktu yang belum pasti hingga kapan….

Pontianak mendung, cenderung gerimis. beberapa saat sebelum pesawat parkir saya sempat melihat sebagian badan bandara sedang direnovasi.

Bandara Internasional Supadio akan memiliki bangunan terminal baru dengan landasan pacunya yang lebih panjang dan lebar, agar menjadi bandara kelas dunia. Pada 2012 tender untuk pelapisan landasan pacu sepanjang 2.250 meter telah dilakukan dan pada awal 2013 pelapisan akan dilakukan. Proyek tahun jamak untuk memperluas landasan pacu menjadi 2.500 meter juga mulai pada tahun 2013. Sebelumnya, pada 2010-2011 landasan pacu telah diperlebar dari 30 meter menjadi 45 meter (wikipedia). Sebenarnya bandara ini telah membuka jalur penerbangan internasional yaitu ke Bandara Kuching per th.2000 mengingat Pontianak-Kuching berjarak lumayan dekat (jika diperbandingkan mirip Solo-Jakarta).

kami dijemput beberapa rekan kantor suami menggunakan 2 mobil mengingat banyaknya koper yang harus kami bawa, plus 3 penumpang. di perjalanan menuju hotel, kami diperkenalkan beberapa hal standar tentang Pontianak dan Kalimantan Barat. cuaca masih dingin dan gerimis masih saja mengguyur. tak berapa lama, setelah perjalanan lurus, kami sampai di Mercure Pontianak. kami akan tinggal sementara disini hingga rumah kami dipersiapkan tim logistik.

Alhamdulillahi Rabbil Alamiin….ada rasa syukur telah tiba di kota baru kami dengan selamat namun ada pula rasa “aneh” bergantung di hati. ini adalah kepindahan pertama kami di luar Jawa, jauhhhh dari keluarga besar kami, di kota sekaligus pulau yang sama sekali belum pernah kami kunjungi sebelumnya. hari-hari awal sekolah Dhia pun akan berlalu disini.

Bismillahirrahmanirrahimm…..semoga semua keberkahan akan tercurah untuk kami disini, tanpa kurang sedikitpun. Semoga Alloh senantiasa melindungi kami sekeluarga disini…semoga kami bisa menjalankan tugas sebagai pegawai sekaligus masyarakat pendatang yang baik disini. Aminnnnn…..

 
Leave a comment

Posted by on September 5, 2013 in pontianak, travels

 

Tags:

Pada Hari Minggu….

Tibalah hari keberangkatan kami, Minggu pagi, 12 Mei 2013. Karena akan naik kereta api pagi, maka sejak jam 03.00 dini hari, saya sudah bergedubrakan di dapur menyiapkan sarapan pagi seadanya sekaligus bekal perjalanan. Jam 03.30, saya mulai memandikan si kecil, alhamdulillah tidak ada kendala cuaca dingin. Saat itu Semarang dalam kondisi hangat jadi si kecil tidak terlalu membeku dimandikan sepagi itu (walau tetap dengan air hangat). Alhamdulillah lagi, tidak ada rengekan manja si kecil. Sejak semalam sudah kami beritahu bahwa pagi ini kita akan berpetualang sepagi mungkin.

Jam 04.00 Blue Bird datang, dan kami bergegas naik taksi. Kami hanya berbekal 1 koper sedang, 1 backpack sedang dan 1 stroller lipat. Stroller akan sangat diperlukan mengingat tempat wisata yang akan kami kunjungi berupa kebun binatang dan wahana permainan statis yang luasnya berhektar-hektar sedangkan anak sekecil Dhia -2th 10 bulan- akan sangat gampang lelah jika disuruh jalan kaki.

Perjalanan menuju Stasiun Tawang tergolong mulus cepat karena masih sangat pagi. Hanya memerlukan waktu kurang lebih 20 menit. Sampai di stasiun, kami segera check in lalu menuju mushola untuk sholat Subuh. Dhia anteng di strollernya. Tepat jam 04.30, KA Harina memasuki peron. Kami bersegera naik ke gerbong 2 Eksekutif.

Catatan : Awalnya KA Harina hanya bertrayek Bandung-Semarang. Sementara trayek Semarang-Surabaya diemban oleh KA Rajawali. Namun ternyata KA Rajawali tidak berhasil mencapai target okupansi penumpang maka KA Rajawali dinonaktifkan dan trayek Harina diperpanjang Bandung-Surabaya menggantikannya per 1 Maret 2013. KA Harina terdiri dari rangkaian gerbong Bisnis dan Eksekutif. KA Harina yang saya naiki memiliki beberapa gerbong bisnis dan 3 eksekutif. Gerbong eksekutif terlihat sama selayaknya gerbong eksekutif lainnya hanya terlihat agak sedikit kumal. Gerbong pertama kursinya berwarna biru tua, lalu merah marun dan gerbong terakhir biru tua lagi. Di setiap gerbong Eksekutif dilengkapi dengan AC, Televisi dan pengharum ruangan otomatis. Toilet ada 2, tersedia di ujung gerbong. Selain KA Harina, alternatif lain dari Stasiun Semarang Tawang adalah KA Argo Bromo Anggrek dan KA Gumarang dengan tujuan akhir Surabaya Pasar Turi.

Pukul 05.30, Harina beranjak pelan-pelan menuju timur Pulau Jawa, delay 30 menit dari jadwal yang tertera di tiket. Ini adalah pengalaman pertama Dhia naik kereta api setelah lebih dari dua tahun umurnya yang dia tahu hanyalah lagu anak-anak berjudul Naik Kereta Api dan film pendek Thomas & Friends yang berkisah tentang segala macam kisah kereta api lucu produksi HIT-Fisher Price. Perkiraan saya, Dhia akan segera tertidur lelap mengingat bangun terlalu pagi. Namun kenyataannya, Dhia terlalu bahagia menaiki kereta api pertamanya. Dia menikmati goncangan demi goncangan tempat duduknya ketika melewati besi-besi rel yang belum rapat karena masih dingin. Dia juga bahagia mendengar bunyi klakson kereta api yang sangat kencang “TUTTT TUTTT”. Dia juga menikmati pemandangan pagi yang masih gelap lalu berganti ufuk, lalu muncul sinar matahari pagi berwarna kuning oranye yang menyambar bola matanya karena saat itu kereta menuju timur sehingga berhadapan langsung dengan sinar matahari pagi yang mulai terbit. Dan lebih seru lagi, dia begitu bahagia melihat banyak orang melambai-lambaikan tangan kepadanya dari luar jendela.

Sebelum perjalanan ini, saya juga berharap bisa memberikan pengalaman baru untuk Dhia menaiki kapal laut menyeberang laut Jawa dari Pelabuhan Tanjung Mas Semarang menuju Pulau Karimunjawa. Tapi saya agak ragu, apakah selama perjalanan laut 3 jam itu semua akan baik-baik saja mengingat saya pernah mabuk laut di feri Ketapang-Gilimanuk. Selain itu rasa ketertarikan Dhia terhadap kapal laut juga tak sebesar penasarannya tentang kereta api karena film anak-anak tentang kapal laut tidak pernah ada.

Perjalanan ini akan ditempuh kurang lebih 4 jam. Satu hari sebelumnya saya sudah membooking travel ke Batu Malang agar menjemput kami di Stasiun Pasar Turi begitu kami sampai disana. Walau kami tidak punya pengalaman sama sekali berkereta api ke Surabaya, tapi setidaknya satu bagian kecemasan kami sudah berkurang karena pihak travel sudah menyetujui penjemputan sesuai jam kedatangan kereta kami.

Dhia tertidur ketika kereta berjalan kurang lebih satu jam kemudian, setelah menghabiskan beberapa potong roti buatan saya dan setengah kotak susu Ultra. Dalam perjalanannya ke Surabaya, kereta ini akan singgah 5 kali di beberapa stasiun antara : Ngrombo, Cepu, Bojonegoro, Babat dan Lamongan.

Mendekati stasiun Cepu, banyak sekali penumpang yang berjalan menuju pintu gerbong, dan di luar kereta, banyak sekali penjaja nasi pecel berteriak menawarkan dagangannya. Tak lama para penumpang kembali ke kursi sambil membawa pincukan-pincukan nasi pecel dan lauk pauknya. Oh…ternyata stasiun ini khas dengan Nasi Pecelnya. Saya yakin, para pembeli adalah tipikal orang-orang langganan hilir mudik Semarang-Surabaya sehingga hafal benar dengan karakteristik nasi pecelnya.

Cepu berada di wilayah perbatasan Jawa Tengah-Jawa Timur. Jawa Timur terkenal dengan kuliner Nasi Pecel. Beberapa warung nasi pecel sampai melegenda. Pecel Jawa Timur sepintas mirip dengan pecel di daerah lain, namun sambal kacangnya berwarna agak terang dibanding pecel Jawa Tengah. Hal ini dikarenakan penggunaan gula putih sebagai pencampur kacangnya. Selain itu, topping nasi pecel Jawa Timur juga lebih beragam, mulai dari empal, baceman hingga rempeyek. Sementara nasi pecel Jawa Tengah tidak terlalu mengenal topping ini. Nasi pecel Cepu, sepintas saya lirik, memiliki kecenderungan tipikal nasi pecel Jawa Timur.

Diperkirakan, kereta kami akan sampai Ps Turi Surabaya sekitar pukul 10.00 karena beberapa kali perjalanan harus terhambat perhentian yang cukup lama. Dan Alhamdulillah sekitar pukul 10.30 kereta kami berhenti di Stasiun Pasar Turi Surabaya. Bangunan stasiunnya sendiri tidak lebih besar dari Stasiun Tawang Semarang namun lebih bersih dan rapi dan tidak terkesan kumuh seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Suasana stasiun tidak terlalu ramai meskipun hari Minggu. Beberapa fasilitas umum tersedia, antara lain masjid, toilet gratis dengan banyak sekali kamar mandi, minimarket (di parkiran stasiun) dan warung-warung makan (juga terletak di halaman parkir stasiun). Tak berapa lama kemudian, jemputan travel saya datang dan segera meluncur ke daerah Ketintang untuk menjemput satu orang penumpang lagi selanjutnya langsung meluncur ke Batu-Malang.

Perjalanan Surabaya-Batu ini baru pertama kali kami tempuh meskipun saya sudah berkali-kali ke Surabaya & Malang. Melewati kawasan Porong yang bermasalah, Taman Safari Prigen (saya pernah sekali kesini), kota Malang dan selanjutnya Batu. Batu sendiri terletak di Kabupaten Malang, sekitar 15 km di sebelah barat Kota Malang. Total perjalanan Surabaya-Batu sekitar 3 jam.

Jalan kota Batu tidak terlalu lebar dan terus menanjak. Hampir sampai di kawasan Jatim Park, kami melewati wahana BNS, Batu Night Spectacular yang buka mulai pukul 16.00. Selanjutnya ada plang bertuliskan Jatim Park II di Jl. Oro Oro Ombo baru kemudian ada plang menunjuk Jatim Park I di Jl. Kartika. Karena sopir travel tidak terlalu mengetahui nama jalan dan nama hotel kami, maka si sopir harus berulang kali bertanya sebelum akhirnya sampai juga ke Hotel Pondok Jatim Park yang ternyata benar-benar di dalam kawasan parkir Jatim Park I, hampir berseberangan dengan wahana tersebut.

 
Leave a comment

Posted by on May 20, 2013 in travels

 

Liburan, hurrayy!!

Tahun ini kami merencanakan liburan ke suatu tempat. Beberapa alternatif tempat kami persiapkan disesuaikan dengan agenda kesibukan suami, jatah cuti dan tentu saja tiket perjalanan sekaligus akomodasi. Rencana awalnya adalah Pulau Karimunjawa. Dulu Karimunjawa adalah rencana bulan madu kami namun karena ada satu dan beberapa kendala lainnya, agenda ke Karimunjawa batal. Hingga sebulan setelah kami menikah, Alhamdulillahhh, saya hamil. Jadilah rencana itu semakin tertunda. Setelah anak lahir, semakin sulit bepergian mengingat masih bayi. Dan sekarang, setelah kami rasa anak kami cukup kuat menempuh perjalanan agak jauh, kami putuskan untuk segera liburan ke Karimunjawa yang kebetulan tak terlalu jauh dari Semarang.

Saya segera mengumpulkan banyak informasi perjalanan wisata ke Karimunjawa, lengkap dengan segala macam kemungkinan kejadian termasuk cuaca buruk hingga kapal rusak yang mungkin saja terjadi sehingga kapal batal berlayar. Saya mendapatkan informasi yang semakin menguatkan niat saya dan keluarga berwisata kesana. Dengan total biaya akomodasi yang sangat terjangkau, pesona keindahan alam yang eksotik, dan alternatif paket tour yang banyak sekali, kami mulai memantapkan diri ke Karimunjawa. Suami pun segera mengajukan cuti.

Namun hanya beberapa hari sebelum kami memutuskan untuk mengontak tour travel, saya sempat berdiskusi dengan beberapa sahabat yang pernah berwisata ke Karimunjawa. Sebagian besar memberikan gambaran tentang alam disana, akomodasi, tempat penginapan hingga alternatif hiburan lain yang tersedia di Karimunjawa namun ada saran agar sebisa mungkin saya tidak berwisata ke Karimunjawa dulu mengingat anak saya waktu itu masih berumur 2 tahun. Gambarannya, Karimunjawa adalah pulau dengan keindahan alam pantai dan semacam pantai. Tidak ada alat transportasi umum di pulau, namun akses ke tempat-tempat umum seperti warung dan penginapan sangat mudah dijangkau oleh orang dewasa, namun kurang pas untuk anak-anak dikhawatirkan kelelahan). Alternatif hiburan dan edukasi untuk anak-anaknya pun sangat kurang.

Hati saya bimbang. Kembali saya kontak beberapa sahabat dan minta pertimbangan logis. Beberapa menyarankan ke Surabaya, Malang atau Bandung. Segera saya kontak beberapa rekan di Surabaya dan Malang. Tidak ada hal menarik di Surabaya selain museum dan shopping centre. Jelas hal ini kurang pas untuk niat dan tujuan saya berwisata. Rekan di Malang memberitahu, ada tempat menarik di Batu-Malang, namanya Jatim Park. Sebuah wahana liburan keluarga menyerupai Dufan namun baru-baru ini telah ditambah satu tempat baru lagi berupa kebun binatang modern dan museum satwa.

Ps Turi

Segera saya browsing di Google dan juga tetap mencari informasi terutama perjalanan karena Jatim Park terletak di luar kota Malang. Salah satu sepupu saya tinggal di Malang, dan dia memberikan banyak informasi tentang perjalanan ke Malang sekaligus tentang Jatim Park. Saya diskusikan hal ini dengan suami lalu kami sepakat memutar haluan. Saya kontak beberapa hotel di sekitar Jatim Park.

Alhamdulillah, banyakkkk sekali informasi tentang Jatim Park dan penginapan di sekitar Jatim Park. Sepertinya Kabupaten Malang sedang giat melancarkan agenda wisatanya dan sarana pendukungnya juga memadai sehingga sangat memudahkan pengunjung dari luar kota seperti saya.

FINAL. Keputusan akhirnya dibuat, liburan ke Jatim Park, Batu, Malang. Insya Alloh kalau anak saya sudah besar dan ada kesempatan lagi, mungkin kita akan ke Karimunjawa suatu hari nanti.  Penginapan, tiket kereta api dan travel sudah dibooking. Kereta api dari Semarang hanya sampai di Surabaya, tapi syukur alhamdulillah banyak sekali travel Surabaya-Malang yang bisa menjemput di Stasiun Surabaya sehingga perjalanan Insya Alloh tidak berkendala banyak.

Adapun skema perjalanan kami adalah :

Berangkat

  1. Kereta Api Harina Semarang-Surabaya Pasar Turi, berangkat jam 04.50. Dari rumah kami naik taksi Blue Bird.
  2. Travel Surabaya-Batu Malang, dijemput di Stasiun Pasar Turi, diantar hingga tujuan di Hotel Pondok Jatimpark (menurut informasi by phone, hotel ini terletak di kawasan Jatimpark 1 dan merupakan satu grup dengan pengelola Jatimpark 1 dan 2).

Pulang

  1. Travel Batu-Surabaya Ps Turi, dijemput di Hotel.
  2. Kereta Api Harina Surabaya Ps Turi-Tawang Semarang, berangkat jam 16.00. Tawang-rumah naik taksi Atlas.

Jika ada yang memerlukan informasi harga tiket KA, sebaiknya silakan pantau di web KAI.

Bagi Pengalaman :

  1. Cari informasi sebanyak mungkin tentang rencana tujuan liburan. Google, Yahoo, beberapa website tour & travel, apalagi informasi dari teman yang sudah pernah mengunjunti sangat membantu.
  2. Pantau harga tiket perjalanan.
  3. Pastikan booking hotel & alat transportasi jarak pendek. Nomor telepon travel dan taxi sangat membantu.
 
Leave a comment

Posted by on May 20, 2013 in travels

 

Tags:

Batagor Kingsley – Bandung

hi pals,

Beberapa waktu yang lalu saya ke Bandung, Jawa Barat. Seperti biasa, tak akan saya lewatkan untuk wisata kuliner lah yaaa…Dan biasanya saya akan berburu makanan khas otentik kota yang saya kunjungi, jadi karena saya di Bandung maka makanan khasnya tak lain adalah Batagor & Siomay. Salah satu warung Batagor/Siomay yang terkenal di Bandung adalah Batagor Kingsley yang lokasinya di Jl. Veteran no.25. Warung ini juga sama terkenalnya dengan Batagor Riri namun berbeda dengan batagor kebanyakan karena lembut dan walaupun disimpan lama di kulkas, kelembutannya tidak berubah.

Warung batagor Kingsley sederhana saja, hanya beratapkan fiber di halaman rumah biasa, dengan spanduk besar bertuliskan “Batagor & siomay Kingsley”, dengan meja kursi plastik berada satu tempat dengan tempat menggoreng sekaligus menyajikan pesanan. Menu yang ditawarkan disini bermacam-macam ada batagor, siomay, batagor campur, mie, dll. Minumnya ada aneka jus buah, es/hangat teh & jeruk, soft drink, dll. Saya memesan seporsi batagor (Rp 24.000) dan jus jambu merah.

DSC08513

Tak lama pesanan pun datang, meskipun saat itu warung ini sedang ramai pengunjung. Piring saya berisi 3 buah batagor yang masing-masingnya berukuran agak besar. Jika menilik harga, bagi saya sih memang agak mahal tapi ternyata setelah mencicipinya, sebanding dengan rasa acinya yang lembut & digoreng garing, rasa ikannya yang sangat terasa. Jadi bedanya batagor Kingsley dengan batagor lain yang pernah saya cicipi di Bandung adalah tahunya dicampur dengan adonan ikan di atasnya namun tidak berasa amis. Saus kacangnya melimpah. Enak banget. Jus jambunya juga kental dan banyak.

 
Leave a comment

Posted by on March 2, 2013 in jalan-jalan, makan, travels

 

Kepiting Cak Gundul 1992 – Semarang

hi guys,

Lagi di Semarang dan bingung nyari tempat makan kepiting yang enak? Mungkin Kepiting Cak Gundul bisa dicoba. Posisi tepatnya di kompleks ruko Atrium Jl. Jend. Sudirman no. 1 (Tlp. (024) 76632627). Bersebelahan dengan kantor Honda yang plangnya berwarna merah, restoran ini juga memasang plang dengan warna senada, namun ukurannya lebih kecil, itulah kenapa kadang restoran ini agak susah terlihat. Logonya sebuah kepiting berwarna merah juga. Namun saya yakin, bagi pengunjung dari luar kota pasti akan heran melihat judulnya ada unsur “pasuruan”, yeaahh memang warung ini bukan otentik Semarang kok melainkan Pasuruan. Hanya saja, soal citarasa di lidah saya lumayan mengena dibanding warung yang mungkin otentik Semarang.

Warung ini memanfaatkan seluruh halaman parkir depannya sebagai dapur. Bagian depan adalah area ikan bakar lalu area pemasakan yang berisi 5 kompor besar masing-masing dengan wajan super besar dan bumbu-bumbu di bagian belakang tukang masak. Semua tukang masaknya laki-laki, pegawai perempuan bertugas sebagai pencatat menu, membersihkan meja dan bagian kasir.

cak gundul

Restoran ini bertingkat, bagian atas diberi nama Executive Room, bagian bawah yang berhadapan dengan dapur bernama Economy Room, mirip kelas duduk di pesawat. Menu yang ditawarkan disini beragam dengan masakan kepiting sebagai menu andalan. Ada Kepiting Super Jumbo, Super 1, Super 2, Kepiting Full Jumbo dan Kepiting Full KW2 dengan alternatif masak Kare, Mentega, Asam Manis, Rebus Bumbu. Ada pula Cumi, Udang dan Kerang dengan alternatif masak asam manis, goreng dan bakar. Lalu ada sate cumi, udang biru, Dorang Bakar/Goreng, Ikan Karang Warna Warni Bakar dll. Sayurannya ada ca kangkung polos khas Lombok. Kita bisa juga meminta es batu atau teh tawar hangat atau sayur asem gratis baik untuk dimakan di tempat maupun dibungkus pulang. Di luar sabtu/minggu/hari besar, ada diskon 15% untuk pengunjung kelas Ekonomi.

Seringnya saya pesan bungkus dibawa pulang. Hari itu saya memesan Kepiting Kare, Kepiting Rebus Bumbu, Dorang Bakar, Ca Kangkung Polos, Cumi Asam Manis dan Sayur Asem Gratis. Menunggu pesanan datang disini harus sabar, apalagi jika Anda memesan Kepiting, karena proses pemasakan kepiting disini melewati dua fase, perebusan langsung kepiting segar dan hidup lalu pembumbuan, Kangkung pun melewati quality control yang ketat, kangkung yang berwarna tidak hijau segar dibuang, hanya yang segar saja yang dimasak. Minyak yang digunakan menumis adalah minyak baru yang masih bening. Hal inilah yang membuat kualitas masakan disini dijamin enak. Proses pemasakan yang terbuka sangat bisa dilihat langsung oleh pengunjung.

Jika Anda tidak suka ikan bakar gosong, maka harus memesan di awal karena kebiasaan ikan disini dibakar overcook (hingga kehitaman) namun rasanya tetap manis khas ikan. Seporsi kepiting disini bisa untuk makan sekeluarga karena sangat banyak dan daging kepitingnya manis segar. Kepiting kare kuahnya manis (ciri-ciri masakan Semarangan adalah manis, meskipun brand resto ini adalah khas Pasuruan) tapi kuahnya tak sekental dan semerah kare, hanya dengan sedikit santan encer dan berwarna kekuningan, rempahnya pun kurang berasa. Lebih enak Kepiting Rebus Bumbu yang walau hanya direbus dengan bumbu bawang dan garam, namun kesegaran daging kepitingnya lebih terasa dan bumbunya lebih merasuk. Ca Kangkungnya enak sementara sayur asemnya juga enak, favorit suami.

Tidak banyak restoran yang menjual hidangan laut dengan metode pemasakan khas seafood di dalam kota Semarang meskipun kota ini adalah kota pelabuhan. Salah satu yang bisa saya rekomendasikan ya di Kepiting Cak Gundul Pasuruan 1992 ini.

 
Leave a comment

Posted by on March 2, 2013 in travels

 

Pempek Selamat – Jambi

hi all,

dari awal posting, kebanyakan yang saya post seputaran makanan Jawa, yeahh tentu saja karena saya kan orang Jawa tulen dan sampai saat ini saya masih tinggal di Jawa. Namun untuk alasan pekerjaan, sesekali saya pernah menyambangi luar Jawa dan bersyukurlah saya bisa pernah mendarat dengan selamat di beberapa kota besar disana, salah satunya Jambi. Sayangnya, ketika di Jambi, saya tidak bisa menemukan makanan khas kota kecil itu alih-alih makanan khas dari daerah-daerah besar di sekitarnya seperti Palembang dan Padang. Pada awal kesempatan, saya memilih Pempek Palembang karena kebetulan di depan hotel yang saya tinggali, terdapat sebuah toko sekaligus warung Pempek yang menurut beberapa sumber cukup terkenal baik di Palembang, Jakarta maupun Jambi. Namanya Pempek Selamat yang terletak di Jl. Sumantri Brojonegoro no. B5, Jambi telp. 0741 62972

Pempek atau Empek-empek, makanan berbahan baku tepung kanji dan gilingan ikan tenggiri merupakan makanan khas Palembang, tapi sekarang Pempek Palembang, seperti hal-nya Gudeg Yogya, sudah me-nasional namun masih ada yang membedakan dengan asli buatan Palembang yaitu citarasa khasnya.

Resto ini tidak terlalu besar atau ramai pengunjung padahal berada di jalan utama yang membelah kota. Bisa jadi alasannya karena orang Jambi sudah bosan makan pempek. Bagian depan resto berisi etalase makanan ringan seperti kerupuk & keripik khas Palembang dan Jambi. Ruangan makan berbentuk sempit memanjang namun cukup bersih. Dapur tidak terlalu jauh dari ruang pengunjung sehingga aroma ikan tenggiri dari pempek yang sedang dimasak sesekali tercium menggoda selera.

Di daftar menu, terdapat banyak sekali menu variasi Pempek khas Palembang : Pempek aneka bentuk, Tekwan, Model, Pangsit, Laksan, Celimpungan, Rujak mie, dll. Minumannya pun tak kalah beragam : Es Campur, Aneka Jus Buah dan Aneka Minuman Hangat. Buku menunya cukup informatif karena ada keterangan gambar sehingga pengunjung yang bukan orang asli Palembang/Jambi mendapat cukup gambaran tentang menu yang bisa dipilih selain bertanya kepada pelayan yang akan setia menunggu kita memilih menu.

DSC03027 DSC03026

Di Jawa, kebanyakan warung Pempek hanya menjual Kapal Selam, Lenggang, Kulit, Bulat dan Adaan. Namun disini ternyata sangat banyak jenisnya. Penasaran, saya pun memesan menu pempek campur. Satu porsi berisi 10 buah pempek aneka rasa (bisa juga memesan porsi besar, berisi 20 buah pempek). Saya juga memesan otak-otak, pempek cerewet dan pempek keriting yang tidak termasuk dalam paket pempek campur. Jika hari hujan, maka yang cocok dipesan adalah tekwan (semacam pempek tapi disajikan dalam kuah dilengkapi bihun), model (tahu besar dengan rasa ikan tenggiri yang disajikan dalam kuah yang sama seperti tekwan), laksan (seperti laksa tapi memakai bahan udang/ikan) dan celimpungan (semacam pempek yang disajikan dengan kuah kental seperti laksa).

Tak lama, pesanan datang, lengkap dengan teh hangat yang kami pesan dan piring untuk mencampur pempek dengan cuko yang telah tersedia di setiap meja beserta acar mentimun sebagai pelengkap menikmati pempek. Pempek Campur berisi 5 jenis pempek, masing2 2 buah. Ada pempek panggang, telur kecil, adaan, lenjer kecil dan kulit. Walau terlihat kecil-kecil dan sekali kunyah tapi karena komposisi pempek adalah tepung, maka kita akan cepat kenyang juga jika langsung menyantap habis kesepuluh buahnya. Pempek telur, adaan, lenjer dan kulit tergolong pempek universal, hampir semua resto yang menjual pempek biasanya memiliki menu ini, tapi pempek panggang tergolong jarang. Pempek ini diisin dengan abon ebi gurih lalu dipanggang (tidak digoreng sebagaimana pempek lainnya). Otak-otak tidak jauh beda dengan otak-otak pada umumnya, hanya lebih berasa ikan tenggirinya. Disajikan dalam bentuk bungkusan daun pisang dan dipanggang hingga aromanya makin menggugah selera. Pempek Keriting adalah jenis pempek yang berbentuk seperti mie dan disusun menjadi bulatan, mirip penganan Putu Mayang jika di Jawa Tengah. Pempek cerewet berbentuk seperti Pempek Lenjer namun dibelah dan ada isian udang kering bercampur kecap. Seperti aroma yang sedari awal terus menguar, pempek yang saya nikmati benar-benar terasaaaa banget ikannya. Tidak salah saya mencicipi di resto ini.

Setelah mencicipi aneka jenis pempek, rasa penasaran terbayar, rasa puas terlewatkan. Walau belum sampai Palembang, tapi setidaknya saya bisa menikmati Pempek-nya. Oya, sebagai oleh-oleh kita bisa membelinya dalam bentuk pempek mentah yang nanti akan ditaburi tepung agar tidak lengket satu sama lain dan dikemas khusus. Dalam kondisi suhu ruang, kemasan ini hanya tahan 1 hari karena salah satu bahan yaitu ikan sifatnya cepat basi. Selain pempek mentah, saya juga membeli Keripik Rambutan yang merupakan khas Jambi, dan Kerupuk Kemplang khas Palembang.

 
Leave a comment

Posted by on March 2, 2013 in travels