RSS

Wamena & Udang Selingkuh

20160325091919

Seorang rekan berpesan, kalau ke Wamena, harus makan udang selingkuh. Dan demi memuaskan penasaran saya, sejak berkenalan dg driver, saya sudah pesan, “Tolong nanti antarkan saya mencari udang selingkuh.”

Driver saya, pria kelahiran Lamongan (atau Lumajang ya 😖) sudah 31 th tinggal di Wamena. Tapi dialeknya masih Jawa Timuran banget. Sikapnya juga santun, apalagi ketemu saya, yg nyata2 berdarah Jawa (Timur) juga. Pria yg ontime, helpful dan informatif. Saya diajak berkeliling Wamena. Kota Wamena relatif kecil, mungkin nggak lebih luas dari Delanggu. Udaranya sejuk karena terletak di Lembah Baliem, dikelilingi gugusan Jayawijaya. Karena topografinya hampir mirip Jayapura, saya yakin curah hujan di Wamena pun tergolong tinggi. Kabut sering datang bahkan di tengah hari yg awalnya panas terik dlm sekejap berubah menjadi hujan.

Pagi itu, 23 Maret, saya diantar ke pasar utama. Membeli madu hutan & aneka sayur segar sbg oleh2 adalah kebiasaan pengunjung jika datang ke Wamena. Daun bawangnya raksasa & segaaar sekali, 1 ikat 5rb. Wortel, kubis, dll…semua menyenangkan utk dibeli. Tapi saya ingat, saya masih 2 hari di Wamena, jd urung membeli sayur. Saya membeli alpukat. Yeah….alpukat Wamena memang juara se-Papua. Saya beli 1 tumpuk 10 rb isi 7 besar2 (sayang lupa difoto). Sayang, nanas madu sedang tidak musim di pasar tsb. Nanas madu juga ikon oleh2 dari Wamena.

Karena gagal menemukan nanas & udang, driver membawa saya mengunjungi pasar baru yg terletak agak di luar kota. Sepanjang jalan saya nikmati….saya serasa menjelajahi kota2 di Jawa, 2 dekade yg lalu. Lawas & kusam. Bagaimana mungkin pembangunan bisa berkembang di Wamena jika BBM & bahan bangunan mahalnya selangit.

DSC_7088.JPGMelewati sebuah toko bangunan yg agak besar, saya mendadak minta berhenti. “Tunggu, Pak. Saya cuma ingin nanya harga semen.” Tak lama kemudian, saya masuk ke mobil, “600rb/sak. Lalu berapa di Puncak?”

Well…Jokowi tdk bohong. Jika di Wamena (lembah) 600rb, bisa jadi jutaan di Puncak. Transport ke Puncak tidak mudah. Jika tdk dg helikopter atau pesawat kargo kecil, ya dg sewa double cabin (Strada, Hi-Lux) yg ongkos sewanya saja mencapai 13-21 juta sekali jalan, satu mobil!! Astaghfirullaah.

Note. Saat saya ke Wamena, bbm & semen masih di harga menggila. Saat saya menulis, kabarnya bbm & semen sudah diturunkan harganya.

Sewa mobil dlm kota pun ada kualifikasinya. Pake AC lbh mahal, karena BBM yg dibutuhkan lebih banyak. Pasokan BBM hanya datang seminggu 2x, pembeliannya dibatasi & memakai kupon. Termasuk minyak tanah utk memasak.

Saya banyak melamun, dari balik jendela mobil, saya lihat anak2 usia sekolah yg berlarian telanjang kaki nongkrong di pinggir jalan. Kurus, kumal, di hidung2 mereka mengalir ingus kental. Tatapan matanya keras. Hidup tidak mudah disini.

Mobil diparkir di sebuah pasar kumal, namanya Pasar Baru. Tentu saja jauhhhhh dari tampilan pasmod2 di ibukota sana. Driver segera mengenakan jaket kulit. “Demi keamanan Ibu.” Awalnya saya blm ngerti. “Hati-hati jambret, Bu.” Sejenak saya urung turun, toh blm tentu ada juga nanas & udangnya. Faktor keamanan-lah yg saya kuatirkan. Tapi driver meyakinkan saya akan dikawalnya dg ketat maka Bismillaaah….

Saya mendapati seorang bapa penjual udang. Demi mendapatkan harga oke, saya keluarkan logat Papua yg tanpa sadar sudah melekat di lidah saya 2 tahun ini. Gaya menawar ala mama2 pun tak ketinggalan saya luncurkan. Dapat. 1 kantong udang selingkuh, 200k. Murah? Mahal lah! Udangnya nggak terlalu besar kok. Tapi uniknya, cuma dijual di Wamena. Mengapa disebut “udang selingkuh”? Liat foto saya aja lah yaa….lalu simpulkan sendiri dimana uniknya.

Nanas madu pun dapat juga. Ohhh…saya bayangkan bagasi saya lusa akan penuh buah2an berat. Baru membayar nanas, di belakang saya ada keributan. Orang mabuk. Saya ngeri….lalu memutuskan kembali ke mobil lalu kembali ke kota. Besok lanjut lagi, pasti ada hal yg lebih menarik.

DSC_7372-01.jpeg

Dari kejauhan tampak terbentang Puncak Trikora yg gagah.

Tbc.

Catatan keliling Papua ep. Wamena (2)

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on August 16, 2017 in travels

 

ATR & WAMENA

22 Maret 2016, saya berkesempatan terbang ke Wamena, ibukota kab. Jayawijaya. Rencana terbang pukul 06.15 terulur hingga 15.00 karena cuaca buruk, semua penerbangan dari & ke Jayapura pd hari itu tertunda. Karena lokasi Bandara Sentani di tengah bukit & Wamena di tengah gunung, sangat beresiko sekali utk tetap terbang. Saya pun berdoa smg flight dibatalkan saja. Ngeri.

Dengan Wings Air ATR 72 500/600, kami terbang menembus sisa kabut. Saya ngantuk, tp goncangan2 ajaib membuat tangan sy berkeringat & deg2an. Plus penasaran menunggu saat dimana pesawat akan melewati belahan gunung. Hal yg langka sekali.

Ketika akan mendarat, benar saja, pesawat mulai bergerak stabil menembus awan2 tebal dan tiba2 saya melihat sudah berada di jalur tengah2 gunung. Di jendela, tampaklah gundukan tinggi. MashaAllah….benar2 lewat tengah Jayawijaya! Sayang saya gagal memotret salju abadi Cartenz karena masih terselimuti awan tebal dimana-mana.

Dalam hati, saya berdoa semoga pak pilot tidak mengantuk atau melamun. Sensasional sekali rasanya terbang menembus awan tebal dan lewat tengah gunung.

45 menit, Alhamdulilllah pesawat mendarat dg mulus. Landing bersamaan dg rekan yg jg terbang ke Wamena tp menggunakan armada Trigana Air jet. Trigana lebih cepat tapi tidak sensasional karena lewat jalur atas pegunungan 😁.

Di landasan, tampak pesawat2 kargo berjejer. Pesawat inilah yg bertanggung jawab thd urusan logistik penduduk Jayawijaya. Beras, lauk pauk (non sayur) hingga bahan bangunan. Jadi, mengerti kan kenapa di Jayawijaya serba mahal? Karena “angkot”nya sj pesawat kargo. Pesawat-pesawat kargo ini luaaar biasa jasanya utk Papua. Ketangguhan para pilotnya jg patut diacungi jempol karena menyopiri pesawat bermuatan melewati jalur yg sulit penuh tebing, bukan hal yg mudah. April 2017 lalu, sebuah pesawat kargo jatuh menabrak tebing di Pegunungan Bintang. Pilotnya dikabarkan tewas setelah berputar 5 kali menembus cuaca buruk.

Bandara Wamena sudah baru & megah. Kabarnya dibangun pd pemerintahan baru ini. Dulu, bentuknya seperti kandang ayam. Diapit pegunungan yg tampak kelabu karena masih diselimuti kabut. Dingin…saat itu 19 dC.

Well….saat itu saya merasa, akan ada petualangan menarik disini.

(Tbc.)
Catatan keliling Papua ep. Wamena.

 
Leave a comment

Posted by on August 12, 2017 in travels

 

Jayapura…

SK mutasi suami sudah turun. Namun suami belum mendapatkannya secara langsung karena kebetulan sedang dinas keluar kota. Hari Jum’at sore, suami pun ke kantor utk mengambilnya. Sebelumnya, sudah bertebaran desas desus bahwa kami akan dimutasi ke Papua. Inilah saat membuktikannya.

Saya masih memasak makan malam saat suami pulang membawa suratnya. Raut wajahnya sendu, dan batin saya mendadak nggak enak. Dari garasi, dia langsung menuju dapur & memeluk saya, suaranya serak. Never been happened before!

“Sabar ya…” cuma itu kata2nya. Saya deg2an. “Kemana kita?” saya tatap matanya. Lalu dia makin memeluk saya, “Papua.”

Saya menangis di dadanya. Menangis tanpa henti….bingung kenapa kami justru dimutasi ke Papua, sementara banyak rekan yg justru kembali ke Jawa setelah penempatan luar Jawa. Papua….tempat yg sangat saya takutkan. Papua…tempat yg selalu jd bahan olokan namun saya selalu beristighfar menolaknya. Lemas. Setelah hari itu saya lemas tak bersemangat & marah. Kami tidak ikhlas..

Namun SK sudah diputuskan. Harus dijalani kalau masih ingin berkarir. Dan hanya diberi waktu kurang dari 3 minggu utk mutasi. Pertengahan Januari, siap atau tidak, kami harus sudah tiba disana.

Kami bergegas packing dg emosi tdk terkendali. Saya minta bantuan Allah…mungkin Allah bs kasi mukzizat, SK diganti. Tapi tidak ada perubahan. SK tidak pernah direvisi. Kami bergerilya mencari kargo yg bs mengangkut barang dari Pontianak ke Jayapura. Sulittttt sekali. Kebanyakan menjawab, wilayah mereka mentok di Makassar. Kalaupun ada, mahalnya nggak masuk akal. Mencapai 50juta! Gila kaaan! Uang pindah tidak sebesar itu…..sedih sekali….pindah ke tempat yg jauh, uang pindah pun minimalis.

25 Desember 2014, kami pergi ke Kuching, karena sebelum SK turun, kami sudah booking wisata ke Kuching. 4 hari kami habiskan berwisata tanpa semangat. Karena pulang wisata, kami masih harus menyelesaikan berbagai urusan mutasi yg menyedihkan.

Hingga 1 mggu menjelang waktu keberangkatan, masalah kargo blm selesai juga. Hingga akhirnya kami menyerah dg minta bantuan ke kargo langganan kantor yg sebenarnya jg belum pernah mengurus kargo ke Jayapura. Akhirnya….tinggal 5 hari, kami mendapat bantuan yg sangat bisa diandalkan. Alhamdulilllaaaaaah…. Allah selalu memberi kemudahan asal kita berusaha.

13 Januari 2015, seluruh perkakas pribadi kami diangkut. Diperkirakan tiba sebulan kemudian. Mengapa harus selama itu? Karena kapal harus melewati jalur Pnk-Jkt-Sby-Mks-Jyp. Kontainer saya berkeliling Indonesia, dari Kalimantan lewat Jawa & Sulawesi & Maluku lalu ke Papua.

Saya juga harus memikirkan kedatangan kami nanti disana. Akomodasi & segala hal selama mobil & motor kami belum tiba….satu bulan lamanya. Sementara suami harus kerja, anak harus sekolah. Saya buta ttg Jayapura. Tapi Allah masih sayang thd kami….sahabat saya di kos tinggal di Jayapura, dan dia satu2nya savior saya….

14 Januari 2015, sekitar selepas ashar, pesawat kami terbang menuju Jakarta sbg transit pertama. Selanjutnya tengah malam kami akan lanjut ke Jayapura dg flight direct selama 5,5 jam.

Saya nggak bs membayangkan dg flight selama itu pertama kali dlm hidup saya. Terlebih saya nggak tahu, bagaimanakah Jayapura itu. Provinsi terujung, tanah terbengkalai….

 

 

 
Leave a comment

Posted by on January 20, 2015 in travels

 

Apa Yang Wajib Diketahui di Pontianak?

Tak terasa sudah setahun lebih saya berpetualang disini, sudah bisa sedikit merangkum beberapa hal menarik yang sudah saya lewati, cicipi dan rasakan. Nggak banyak juga sih, tapi lumayan biar saya nggak lupa kalau ada yang kebingungan atau nyasar pas di Pontianak, sekaligus meramaikan kata Pontianak di Search Engines yang saat ini superrrr minimalis.

Mulai dari makanan yaaa…

  • Amplang, saya penyuka Amplang dan segala macam kerupuk ikan lainnya. Amplang ini khas Kalimantan. Dulu awal perkenalan dengan Amplang lantaran beberapa teman asal Balikpapan sering bawain ini buat oleh2 dan selalu ludes. Sungguh nggak pernah nyangka, jika suatu hari akhirnya saya berkesempatan tinggal di salah satu kota yang juga menghasilkan Amplang. Sebenarnya, Amplang terkenal dari Ketapang, sebuah kabupaten di ujung propinsi Kalimantan Barat. Seperti bawang merah di Brebes, Amplang sudah menjadi komoditas utama kabupaten ini. Mungkin juga sudah diekspor keluar negeri. Pengusaha Amplang sudah banyak yang sukses. Peta dari sini

600px-Ketapang.svg

  • Kue Bingke, atau juga disebut Kue Bingka. Biasanya kue ini laris mans di Bulan Ramadhan, meski di bulan lainnya penjual tetap memproduksi dan menjualnya. Terbuat dari tepung beras, santan, susu dan telur. Semakin banyak telurnya semakin mahal. Varian rasanya mulai beragam dari original, kentang, pandan, dll. Ada juga jenis Bingke Berendam, alias dituang kuah santan kental. Menurut saya, rasanya mirip kue lumpur hanya cetakannya khas berbentuk bunga berkelopak lima. Saya tidak terlalu menyukai kue ini. Merk yang terkenal antara lain Bingke Fajar, Bingke Anggrek dan Bingke Kathulistiwa.

1184873_10201994541813008_1432209438_n

  • Meetiaw, atau biasa disebut mi putih disini. Sama persis dengan kwetiaw, cara pengolahannya pun juga sama. Sedikit yang membedakan adalah meetiaw/kwetiaw disini memakai campuran taoge panjang dan biasanya yang disukai adalah jenis meetiaw sapi. Warung yang terkenal antara lain Kwetiaw Apollo & Kwetiaw Polo (Jl. Pattimura). Saya tidak terlalu memfavoritkan kwetiaw, toh saya bisa membuatnya dirumah.

1526279_10203059879205777_1488538322_n

  • Chia Kue, penganan ini hits saat Ramadhan, namun diluar Ramadhan dapat pula kita temui di beberapa warung makan seperti warung Gleam di Jl. Sidas. Terbuat dari tepung beras yg diisi tumisan bengkuang, keladi atau daun prei kemudian dikukus. Di warung Gleam, chia kue disajikan bersama loyang kukusannya. Pendampingnya sambal cair rasa ebi yg nikmat sekali. Favorit saya, gerobak chia kue di depan TK Al Mukhadimah di Jl. Gusti Hamzah yg hanya buka selama Ramadhan & cepat sekali habis.
  • Kepiting Asap Resto Pondok Kakap di Jl. Ismail Marzuki, makanan favorit saya nih. Kepiting Asap nya juaraaa. Biasa dijadikan oleh2 keluar kota. Pada musim durian, di terasnya ada sebuah lapak durian yg boleh dimakan di dlm restoran seusai pengunjung menyantap kepiting/olahan seafood. Benar2 kombinasi kolesterol tingkat tinggi!
  • Sotong Pangkong, yg terbuat dari ikan sotong yg dipipihkan hingga tipiiis lalu dipanggang kering. Harganya berkisar 10rb-40rb per porsinya. Saat dijual, sotong kering ini digantung2 di lapak penjualnya. Setelah pembeli memilih sotong akan dipanggang lalu dipukul2 utk memudahkan dikunyah. Disajikan dg sambal ebi. Sotong Pangkong banyak dijajakan di sekitar Jl. Merdeka Barat, terutama saat Ramadhan.
  • Tim Jelawat. Ikan Jelawat adalah jenis ikan endemik di sungai Kapuas Hulu. Ikannya besaar utk kategori ikan sungai. Sisiknya besar tp dagingnya lembuuuut sekali. Paling favorit dimasak tim ala hongkong atau tim bawang putih.
  • Es Krim Kelapa Petrus (Es Krim A Ngi). Es krim ini unik karena gelasnya yaa belahan kelapa muda. Es krimnya khas mirip es puter di Jawa. Rameee sekali karena memang enak sih.. Selain es krim, disini juga menjual mi ayam.
 
Leave a comment

Posted by on October 27, 2014 in jalan-jalan, makan, pontianak, travels

 

Mercure Pontianak

hai guys….

Pertama kali di Pontianak, kami tinggal sementara di Hotel Mercure. letaknya di Jl. Ahmad Yani yang merupakan jalan terusan dari arah Bandara Supadio hanya memerlukan waktu sekitar 15 menit dari bandara, tidak jauh juga dari mall terbaru sekaligus terbesar di kota Pontianak, A Yani Mall dan hanya bersela sebuah dealer Toyota, Anzon Autoplaza. jika berjalan kaki hanya memerlukan waktu kurang lebih 5 menit dari hotel.

Hotel ini memiliki halaman parkir yang tidak terlalu luas dengan lobi yang juga lumayan kecil, sangat berbeda dengan rata-rata hotel Mercure di kota lain seperti Yogya.

Lorong antarkamar juga sempit, luas kamarnya pun tak jauh luas dari hotel bintang tiga di Yogya. Yeahh….harap maklum, meskipun ibukota propinsi, Pontianak bukanlah kota besar. Dengan bawaan 4 koper besar & 3 travelling bag, kamar kami menjadi semakin sempit..

Kamipun bersegera membersihkan diri setelah perjalanan panjang & melelahkan, saya juga mengecek isi koper. Ternyata sebagian besar pakaian yang tersimpan di koper basah kuyup karena kehujanan sewaktu pemindahan bagasi di Soetta. Cerobohnya kami tidak mengantisipasi hujan sehingga kami tidak mem-plastic wrapping saat check in. Maka akhirnya saya menyulap kamar kami menjadi jemuran darurat karena saya kuatir baju kami akan menjamur mengingat kami akan tinggal di hotel selama 3 hari.

Selesai membersihkan diri, kamipun berbuka puasa seadanya di kamar dengan snack & lunch box dari pesawat lalu kami lanjutkan dengan makan malam di hotel.

Selama 3 hari di hotel, tak banyak hal yang saya lakukan karena menurut info teman disini, kita tidak akan menemukan taxi seperti di semua kota di Jawa. Taxi hanya mangkal di mall & bandara. Ohhh mine! Meski berdekatan dengan mall, saya tetap memilih banyak di kamar. Cuaca siang sangatlah terik & saya belum menyesuaikan diri dengan temperatur kota Equator ini.

Hari sabtu siang, kami check out, dijemput beberapa rekan kantor suami untuk pindah ke rumah dinas kami disini….

Bismillahirrahmanirrahiim….semoga rumah kami kelak membawa keberkahan berlimpah untuk keluarga kecil kami, amiiinnn….

 
Leave a comment

Posted by on February 21, 2014 in travels

 

to pontianak

hai semua….

akhirnya saya pindah kepulauan, hehe…yeahh selama 30++ tahun ini saya betaahh banget bercokol di Pulau Jawa, apalagi pada dasarnya saya lahir, ortu saya lahir juga di Jawa. kepindahan kali ini juga bukan karena mau saya kok, tapi karena memang sudah tiba “jatah” suami untuk mutasi ke luar Jawa, dan tempat tinggal kami yang baru sekarang di Pontianak, Kalimantan Barat.

per tanggal 18 Juli 2013 kami resmi berangkat ke Pontianak dari Semarang menggunakan jasa Garuda, kami menempuh rute Semarang-Jakarta, Jakarta-Pontianak. sebenarnya ada maskapai direct Smg-Pnk yaitu Kalstar, tapi untuk perjalanan kali ini, kami lebih prefer menggunakan maskapai yang sudah terjamin armada & pilotnya walaupun rutenya harus memutar via CGK dulu. apalagi saat ini cuaca sungguh sangat sulit diprediksi.

keberangkat Garuda kami mengalami delay sekitar 1 jam dari jadwal semula. kami naik pesawat jenis Boeing 737-800, armada lokal yang baru dengan layar televisi mini LCD 9 inch di atas kursi. dan seperti dugaan kami, saat take off dari Smg, cuaca cerah dan terik…namun beberapa saat diatas berubah menjadi mendung, sempat terjadi goncangan (yang sangat jarang saya rasakan jika memakai Garuda tapi mungkin saking tebalnya awan) dan selanjutnya hujan deras saat mendarat di Soetta. Alhamdulillahh, kami mendarat dengan selamat. sayang sekali, Garuda tidak menyediakan garbarata, sehingga kami harus sedikit berhujan-hujan masuk ke shuttle yang mengantar kami ke terminal kedatangan.

saat itu kami membawa 1 mini koper (appx 10kg), 1 tas laptop (appx 5kg), 1 baby bag (appx 3kg), dan si kecil Arleydhia (98cm, 14kg) dalam gendongan yang sedang tidur pulas saat mendarat. fiuhhhhh, bisa dibayangkan betapa repot dan beratnya beban yang harus kami bawa bukan? apalagi saat itu kami sama-sama berpuasa (ahhh puasa tak boleh jadi alasan kan ya?), diiringi hujan, dan tau sendiri, betapa luasnya terminal kedatangan Soetta. naik tangga, jalan kaki menuju transit report, lalu jalan kaki lagi menuju Gate. fiuhhh….perkiraan kami mas Dhia akan tertidur dalam pesawat, lalu dia bisa berjalan kaki sendiri sehingga kami berdua bisa berbagi tas, hehehe…sungguh di luar perkiraan, si kecil menikmati seat-nya, menikmati suvenir mobil dari flight attendant, menikmati makan siangnya dengan nyaman, dan baru menjelang mendarat baru mendadak pulas 😦

karena keberangkatan kami mengalami delay, maka waktu transit yang seharusnya sekitar 1-2 jam an harus mengalami percepatan, kami masih beruntung karena tidak tertinggal pesawat walau resikonya harus berlari-lari di sepanjang gate dengan bawaan banyak dan berat #ngos-ngosan# dan parahnya lagi, gak sempat motret2…huwaaaaa….ini adalah kesalahan besar sepanjang sejarah, tanpa dokumentasi! 

tak lama, kami sudah berada di dalam pesawat Boeing 747-500, jenis yang lebih tua daripada yang kami naiki dari Smg-Jkt. tapi total perjalanan saya rasakan lebih tenang yang ke Pontianak, padahal full menyeberang Laut Jawa yang begitu luasnya. Sekitar 1,5 jam kemudian, kami akhirnya mendarat di Bandara Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat. Subhanallah, akhirnya sampai juga saya menginjakkan kaki saya pertama kali di bumi Borneo…tentang Borneo, sebenarnya sudah lamaaa sekali saya ingin berkunjung ke pulau terbesar di Indonesia ini, karena selama berpuluh-puluh kali perjalanan dinas dan perjalanan wisata sepanjang hidup saya, belum ada satupun record ke Borneo. tidak menyangka jika kunjungan pertama saya justru adalah saat saya harus tinggal sementara di Pontianak, untuk waktu yang belum pasti hingga kapan….

Pontianak mendung, cenderung gerimis. beberapa saat sebelum pesawat parkir saya sempat melihat sebagian badan bandara sedang direnovasi.

Bandara Internasional Supadio akan memiliki bangunan terminal baru dengan landasan pacunya yang lebih panjang dan lebar, agar menjadi bandara kelas dunia. Pada 2012 tender untuk pelapisan landasan pacu sepanjang 2.250 meter telah dilakukan dan pada awal 2013 pelapisan akan dilakukan. Proyek tahun jamak untuk memperluas landasan pacu menjadi 2.500 meter juga mulai pada tahun 2013. Sebelumnya, pada 2010-2011 landasan pacu telah diperlebar dari 30 meter menjadi 45 meter (wikipedia). Sebenarnya bandara ini telah membuka jalur penerbangan internasional yaitu ke Bandara Kuching per th.2000 mengingat Pontianak-Kuching berjarak lumayan dekat (jika diperbandingkan mirip Solo-Jakarta).

kami dijemput beberapa rekan kantor suami menggunakan 2 mobil mengingat banyaknya koper yang harus kami bawa, plus 3 penumpang. di perjalanan menuju hotel, kami diperkenalkan beberapa hal standar tentang Pontianak dan Kalimantan Barat. cuaca masih dingin dan gerimis masih saja mengguyur. tak berapa lama, setelah perjalanan lurus, kami sampai di Mercure Pontianak. kami akan tinggal sementara disini hingga rumah kami dipersiapkan tim logistik.

Alhamdulillahi Rabbil Alamiin….ada rasa syukur telah tiba di kota baru kami dengan selamat namun ada pula rasa “aneh” bergantung di hati. ini adalah kepindahan pertama kami di luar Jawa, jauhhhh dari keluarga besar kami, di kota sekaligus pulau yang sama sekali belum pernah kami kunjungi sebelumnya. hari-hari awal sekolah Dhia pun akan berlalu disini.

Bismillahirrahmanirrahimm…..semoga semua keberkahan akan tercurah untuk kami disini, tanpa kurang sedikitpun. Semoga Alloh senantiasa melindungi kami sekeluarga disini…semoga kami bisa menjalankan tugas sebagai pegawai sekaligus masyarakat pendatang yang baik disini. Aminnnnn…..

 
Leave a comment

Posted by on September 5, 2013 in pontianak, travels

 

Tags:

Pada Hari Minggu….

Tibalah hari keberangkatan kami, Minggu pagi, 12 Mei 2013. Karena akan naik kereta api pagi, maka sejak jam 03.00 dini hari, saya sudah bergedubrakan di dapur menyiapkan sarapan pagi seadanya sekaligus bekal perjalanan. Jam 03.30, saya mulai memandikan si kecil, alhamdulillah tidak ada kendala cuaca dingin. Saat itu Semarang dalam kondisi hangat jadi si kecil tidak terlalu membeku dimandikan sepagi itu (walau tetap dengan air hangat). Alhamdulillah lagi, tidak ada rengekan manja si kecil. Sejak semalam sudah kami beritahu bahwa pagi ini kita akan berpetualang sepagi mungkin.

Jam 04.00 Blue Bird datang, dan kami bergegas naik taksi. Kami hanya berbekal 1 koper sedang, 1 backpack sedang dan 1 stroller lipat. Stroller akan sangat diperlukan mengingat tempat wisata yang akan kami kunjungi berupa kebun binatang dan wahana permainan statis yang luasnya berhektar-hektar sedangkan anak sekecil Dhia -2th 10 bulan- akan sangat gampang lelah jika disuruh jalan kaki.

Perjalanan menuju Stasiun Tawang tergolong mulus cepat karena masih sangat pagi. Hanya memerlukan waktu kurang lebih 20 menit. Sampai di stasiun, kami segera check in lalu menuju mushola untuk sholat Subuh. Dhia anteng di strollernya. Tepat jam 04.30, KA Harina memasuki peron. Kami bersegera naik ke gerbong 2 Eksekutif.

Catatan : Awalnya KA Harina hanya bertrayek Bandung-Semarang. Sementara trayek Semarang-Surabaya diemban oleh KA Rajawali. Namun ternyata KA Rajawali tidak berhasil mencapai target okupansi penumpang maka KA Rajawali dinonaktifkan dan trayek Harina diperpanjang Bandung-Surabaya menggantikannya per 1 Maret 2013. KA Harina terdiri dari rangkaian gerbong Bisnis dan Eksekutif. KA Harina yang saya naiki memiliki beberapa gerbong bisnis dan 3 eksekutif. Gerbong eksekutif terlihat sama selayaknya gerbong eksekutif lainnya hanya terlihat agak sedikit kumal. Gerbong pertama kursinya berwarna biru tua, lalu merah marun dan gerbong terakhir biru tua lagi. Di setiap gerbong Eksekutif dilengkapi dengan AC, Televisi dan pengharum ruangan otomatis. Toilet ada 2, tersedia di ujung gerbong. Selain KA Harina, alternatif lain dari Stasiun Semarang Tawang adalah KA Argo Bromo Anggrek dan KA Gumarang dengan tujuan akhir Surabaya Pasar Turi.

Pukul 05.30, Harina beranjak pelan-pelan menuju timur Pulau Jawa, delay 30 menit dari jadwal yang tertera di tiket. Ini adalah pengalaman pertama Dhia naik kereta api setelah lebih dari dua tahun umurnya yang dia tahu hanyalah lagu anak-anak berjudul Naik Kereta Api dan film pendek Thomas & Friends yang berkisah tentang segala macam kisah kereta api lucu produksi HIT-Fisher Price. Perkiraan saya, Dhia akan segera tertidur lelap mengingat bangun terlalu pagi. Namun kenyataannya, Dhia terlalu bahagia menaiki kereta api pertamanya. Dia menikmati goncangan demi goncangan tempat duduknya ketika melewati besi-besi rel yang belum rapat karena masih dingin. Dia juga bahagia mendengar bunyi klakson kereta api yang sangat kencang “TUTTT TUTTT”. Dia juga menikmati pemandangan pagi yang masih gelap lalu berganti ufuk, lalu muncul sinar matahari pagi berwarna kuning oranye yang menyambar bola matanya karena saat itu kereta menuju timur sehingga berhadapan langsung dengan sinar matahari pagi yang mulai terbit. Dan lebih seru lagi, dia begitu bahagia melihat banyak orang melambai-lambaikan tangan kepadanya dari luar jendela.

Sebelum perjalanan ini, saya juga berharap bisa memberikan pengalaman baru untuk Dhia menaiki kapal laut menyeberang laut Jawa dari Pelabuhan Tanjung Mas Semarang menuju Pulau Karimunjawa. Tapi saya agak ragu, apakah selama perjalanan laut 3 jam itu semua akan baik-baik saja mengingat saya pernah mabuk laut di feri Ketapang-Gilimanuk. Selain itu rasa ketertarikan Dhia terhadap kapal laut juga tak sebesar penasarannya tentang kereta api karena film anak-anak tentang kapal laut tidak pernah ada.

Perjalanan ini akan ditempuh kurang lebih 4 jam. Satu hari sebelumnya saya sudah membooking travel ke Batu Malang agar menjemput kami di Stasiun Pasar Turi begitu kami sampai disana. Walau kami tidak punya pengalaman sama sekali berkereta api ke Surabaya, tapi setidaknya satu bagian kecemasan kami sudah berkurang karena pihak travel sudah menyetujui penjemputan sesuai jam kedatangan kereta kami.

Dhia tertidur ketika kereta berjalan kurang lebih satu jam kemudian, setelah menghabiskan beberapa potong roti buatan saya dan setengah kotak susu Ultra. Dalam perjalanannya ke Surabaya, kereta ini akan singgah 5 kali di beberapa stasiun antara : Ngrombo, Cepu, Bojonegoro, Babat dan Lamongan.

Mendekati stasiun Cepu, banyak sekali penumpang yang berjalan menuju pintu gerbong, dan di luar kereta, banyak sekali penjaja nasi pecel berteriak menawarkan dagangannya. Tak lama para penumpang kembali ke kursi sambil membawa pincukan-pincukan nasi pecel dan lauk pauknya. Oh…ternyata stasiun ini khas dengan Nasi Pecelnya. Saya yakin, para pembeli adalah tipikal orang-orang langganan hilir mudik Semarang-Surabaya sehingga hafal benar dengan karakteristik nasi pecelnya.

Cepu berada di wilayah perbatasan Jawa Tengah-Jawa Timur. Jawa Timur terkenal dengan kuliner Nasi Pecel. Beberapa warung nasi pecel sampai melegenda. Pecel Jawa Timur sepintas mirip dengan pecel di daerah lain, namun sambal kacangnya berwarna agak terang dibanding pecel Jawa Tengah. Hal ini dikarenakan penggunaan gula putih sebagai pencampur kacangnya. Selain itu, topping nasi pecel Jawa Timur juga lebih beragam, mulai dari empal, baceman hingga rempeyek. Sementara nasi pecel Jawa Tengah tidak terlalu mengenal topping ini. Nasi pecel Cepu, sepintas saya lirik, memiliki kecenderungan tipikal nasi pecel Jawa Timur.

Diperkirakan, kereta kami akan sampai Ps Turi Surabaya sekitar pukul 10.00 karena beberapa kali perjalanan harus terhambat perhentian yang cukup lama. Dan Alhamdulillah sekitar pukul 10.30 kereta kami berhenti di Stasiun Pasar Turi Surabaya. Bangunan stasiunnya sendiri tidak lebih besar dari Stasiun Tawang Semarang namun lebih bersih dan rapi dan tidak terkesan kumuh seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Suasana stasiun tidak terlalu ramai meskipun hari Minggu. Beberapa fasilitas umum tersedia, antara lain masjid, toilet gratis dengan banyak sekali kamar mandi, minimarket (di parkiran stasiun) dan warung-warung makan (juga terletak di halaman parkir stasiun). Tak berapa lama kemudian, jemputan travel saya datang dan segera meluncur ke daerah Ketintang untuk menjemput satu orang penumpang lagi selanjutnya langsung meluncur ke Batu-Malang.

Perjalanan Surabaya-Batu ini baru pertama kali kami tempuh meskipun saya sudah berkali-kali ke Surabaya & Malang. Melewati kawasan Porong yang bermasalah, Taman Safari Prigen (saya pernah sekali kesini), kota Malang dan selanjutnya Batu. Batu sendiri terletak di Kabupaten Malang, sekitar 15 km di sebelah barat Kota Malang. Total perjalanan Surabaya-Batu sekitar 3 jam.

Jalan kota Batu tidak terlalu lebar dan terus menanjak. Hampir sampai di kawasan Jatim Park, kami melewati wahana BNS, Batu Night Spectacular yang buka mulai pukul 16.00. Selanjutnya ada plang bertuliskan Jatim Park II di Jl. Oro Oro Ombo baru kemudian ada plang menunjuk Jatim Park I di Jl. Kartika. Karena sopir travel tidak terlalu mengetahui nama jalan dan nama hotel kami, maka si sopir harus berulang kali bertanya sebelum akhirnya sampai juga ke Hotel Pondok Jatim Park yang ternyata benar-benar di dalam kawasan parkir Jatim Park I, hampir berseberangan dengan wahana tersebut.

 
Leave a comment

Posted by on May 20, 2013 in travels