Archive for September, 2007

kebumen

good day!

masih seputaran masa kecilku, yeahh…waktu saya kelas enam, saya dan temen-temen satu SD piknik rame-rame ke kebumen. tujuan wisatanya tentu saja seputaran Pantai Ayah (Dad Beach ??!), Waduk Sempor ama Goa Jatijajar.

saya inget, waktu itu saya mabok di jalan..wuih..kasian temen-temen yg duduk di sebelah saya, mereka kena hasil mabok saya. sejak kecil emang saya ndak tahan naek bus duduk di belakang, pasti sj mabok. makanya dulu sering dibawain tas kresek kecil buat tempat mabok gitu…hehe

ndak banyak yg saya bisa ingat ttg kebumen. tujuan pertama ke Pantai Ayah (saya ndak tau kenapa dipanggil ‘Ayah’. pantai Ibu-nya dimana yah?)

Pantai ini dapat dikatakan terlengkap dibandingkan pantai-pantai lain. Selain diapit oleh dua pegunungan yang membuat pemandangan indah, pantai ini juga menjadi lahan para nelayan untuk menunjang kehidupan rutinnya sehari-hari. Tiap hari puluhan jongkong berjejer di pantai itu, kecuali jongkong-jongkong yang melaut. Pemandangan seperti ini merupakan ciri khas dan spesifik pantai nelayan. Di pantai ini, juga terdapat tempat pelelangan ikan (TPI) dan penangkaran ubur-ubur (http://kebumen.itgo.com/)

di Goa Jatijajar, saya cuma inget saya beli patung gitu, dan saya sempat jalan-jalan ke dalam goa dengan rasa merinding, karena gelap. lokasi goanya jauh di – (bawah/atas ya??!) jadi musti naek tangga gituu..

jatijajar

Taman Wisata Gua Jatijajar yang terletak 21 kilometer ke arah selatan Gombong, atau 42 kilometer arah barat Kebumen. Gua Jatijajar berada di kaki pegunungan kapur. Objek wisata ini sungguh sangat menarik. Pegunungan kapur ini memanjang dari utara dan ujungnya di selatan menjorok ke laut berupa sebuah tanjung (http://kebumen.itgo.com/)

kayaknya terakhir ke Waduk Sempor, waduk= bendungan (Ind.). saya kok ndak nemu dimana foto-foto saya yah?

waduk sempor

Salah satunya adalah Objek Wisata Waduk Sempor yang terletak 10 kilometer arah utara Gombong, atau sekitar 32 kilometer arah barat Kebumen. Waduk yang luasnya puluhan hektar itu, selain menyediakan air untuk irigasi persawahan, juga untuk menggerakkan turbin PLTA dan PDAM. Sebagai objek wisata, Waduk Sempor dilengkapi speedboat, slowboat, bebek dayung serta perahu dayung. (http://kebumen.itgo.com/)

pulang ke solo, di bis kayaknya saya mabok lagi deh..huaa!

pangandaran beach

good day!

perjalanan keduaku yang cukup membuatku terkesan terjadi waktu aku kelas 4 SD, sekitar tahun 1990. waktu itu Mimim dan temen-temen seruangannya mendapat ‘kado’ dari sebuah universitas besar di solo sana utk berwisata ke jawa barat. seingatku ada dua pilihan, bandung atau pangandaran. dan ternyata banyak yg milih pangandaran.

Mimim mengajakku dan Mas Wawanku, bertiga saja (padahal byk juga temen-temen Mimim yg membawa seluruh anggota keluarganya..hehe..). berangkat bersama dari kantor jam 9 malam, ugh…aku sudah mengantuk sekali waktu itu..tapi aku senang…aku bakal piknik jauh (nggak kayak temen-temen di kampungku yg pikniknya baru seputaran prambanan-borobudur-parangtritis yg justru belum pernah sekalipun kukunjungi)

well..

pangandaran memang bagus bangettt..! seneng ombaknya besar, dan bagusnya lagi, kita bisa menyewa kapal untuk membawa kita ke pulau kecil di tengah pantai (aih..aku lupa apa namanya).

aku memborong ‘oleh-oleh’ semua bebatuan laut dan kerang kubawa pulang, buat hiasan akuarium si viktor (ikan emas peliharaanku waktu itu). rencananya sore dari pangandaran kami akan mampir ke ciamis, belanja (beginilah kalo ibu-ibu berwisata, bukannya menikmati keindahan alam tapi belanja-lah yg diutamakan).

anyway, rencana ke ciamis batal!! wahh..wah…ternyata sopir bis kami sedang mengantuk berat (maklum, belum pernah menyetir jarak jauh) sehingga bis menabrak dahan pohon di pinggir jalan ke arah ciamis. parahnya lagi, mas Wawan duduk di kursi paling depan – seberang sopir – yg otomatis banget terkena pecahan kaca depan paling banyak (bis menabrak dahan di sebelah kiri jalan).

dahi mas Wawan benjol-benjol, luka lumayan parah juga, aku lupa sempat dibawa ke RS nggak, karena aku masih sangat cuek waktu itu, aku lebih memilih bobo saja…ngantuk…bobok

tanjung mas, semarang

good day!

catatan perjalananku yg pertama diawali dari Ibukota propinsi Jawa Tengah, Semarang. pagi-pagi (alm) Om Mochtar mengajakku dan kakakku, Mas Wawan ke pelabuhan.

(alm) omĀ  : “mo liat orang panen di tambak, nggak?”

rere kecil : “mau..mau..terus liat apa aja?”

(alm) om : “kalau ada kapal berlabuh, kita bisa naik diatasnya sebentar.”

[kutipan percakapan sederhana antara rere kecil (8 th) dengan (alm) om-nya, 1989.]

waktu itu aku memang belum pernah sekalipun ke pelabuhan-nya Jawa Tengah itu, paling cuma denger cerita saja. Tanjung Mas sekitar tahun 1989 masih lumayan sepi, dengan tingkat pendangkalan lautnya pun masih tergolong lumayan daripada sekarang.

selanjutnya yg aku masih ingat, aku berboncengan dengan om dan kakakku mengelilingi pelabuhan melewati tambak-tambak lalu berhenti di salah satu tambak dan melihat para petani tambak memanen bandengnya (sorry, bagian ini sudah banyak yg lupa!)

yang jelas aku cukup senang. beberapa waktu yg lalu aku masih menemukan klise (negatif film)-nya, karena foto cetakannya sudah hilang tak berbekas gara-gara aku kasih ke temen-temen pas acara perpisahan SD. hehe..